Berikut adalah gambaran mengenai energi terbarukan di Indonesia pada tahun 2025

Energi terbarukan di Indonesia pada tahun 2025

Indonesia berkomitmen untuk mempercepat transisi energi menuju sumber daya terbarukan, meskipun ada beberapa tantangan dan target yang berpotensi berubah. 

Credit Image: RRI.co.id


Target dan Realitas: 

Target Bauran Energi: Target awal bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 kemungkinan besar tidak akan tercapai. Beberapa prediksi, termasuk dari Menteri ESDM dan IESR, menunjukkan bahwa angka yang lebih realistis adalah sekitar 13-14%, atau bahkan diturunkan menjadi 17-20%.

Penyebab Kesenjangan: Minimnya investasi di sektor energi bersih menjadi salah satu alasan utama mengapa target awal sulit tercapai. Ketergantungan pada energi fosil, khususnya batu bara, masih tinggi.

Peta Jalan dan Rencana

RUPTL 2025-2034: Indonesia telah meluncurkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Rencana ini menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW selama satu dekade ke depan, dengan 76% dari kapasitas baru tersebut berasal dari energi terbarukan.

Fase 1 (2025-2029): Pada fase ini, komposisi energi masih campuran, dengan 12,2 GW dari energi terbarukan, 9,2 GW dari gas, 3 GW dari penyimpanan energi, dan 3,5 GW dari proyek batu bara yang sudah berjalan.

Dominasi Terbarukan: Meskipun demikian, arahnya jelas bahwa energi terbarukan akan mendominasi dalam jangka panjang. RUPTL baru ini menargetkan 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas penyimpanan pada tahun 2034, dengan fokus kuat pada tenaga surya.

Peraturan Menteri ESDM No. 10 Tahun 2025: Peraturan ini mengatur Peta Jalan (Road Map) Transisi Energi Sektor Ketenagalistrikan. Ini mencakup:

Implementasi "cofiring" biomassa di PLTU. 

Akselerasi pengurangan penggunaan bahan bakar minyak. Retrofit pembangkit fosil. Pembatasan penambahan PLTU baru (dengan pengecualian). Akselerasi pengembangan EBT. Percepatan pengakhiran operasional PLTU dengan mempertimbangkan berbagai kriteria (kapasitas, usia, emisi, dll.).

Diproyeksikan bahwa pada tahun 2060, EBT akan mendominasi dengan 41,5% kapasitas pembangkit.

Prioritas dan Potensi 

Tenaga Surya: Solar PV diperkirakan akan menjadi pendorong utama ekspansi energi terbarukan global, dan ini juga menjadi fokus utama di Indonesia. Ada inisiatif untuk mendukung pengembangan PLTS di desa-desa, dengan potensi investasi besar.

Hidro, Angin, dan Panas Bumi: Selain surya, tenaga air (hidro), angin, dan panas bumi juga merupakan bagian penting dari rencana transisi energi Indonesia.

Penyimpanan Energi: Untuk mengatasi sifat intermiten energi terbarukan, RUPTL juga mencakup 4,3 GW pembangkit listrik tenaga air terpompa ("pumped storage hydropower") dan 6,0 GW kapasitas BESS ("Battery Energy Storage System"). 

Bioenergi: Indonesia juga memiliki potensi besar dalam bioenergi, termasuk rencana untuk mencapai Biodiesel 50 (B50) dan pengembangan bioavtur serta bioetanol.

Tantangan

Ketergantungan pada Batu Bara Meskipun ada upaya untuk beralih, Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara. Pergeseran ke energi terbarukan dapat mengurangi subsidi energi yang besar.

Eleksibilitas Sistem: Peningkatan pangsa energi terbarukan yang bervariasi membutuhkan peningkatan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan untuk merespons fluktuasi pasokan.

Peraturan dan Investasi: Masih ada kebutuhan untuk regulasi yang lebih mendukung dan menarik investasi di sektor energi terbarukan.

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi periode krusial bagi Indonesia dalam mempercepat transisi energi. Meskipun target awal mungkin sulit dicapai, komitmen untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan terlihat jelas dalam rencana jangka panjang dan peraturan yang telah diterbitkan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak